Manajemen Pendidikan

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Dalam suatu penyelenggaraan program pendidikan pastilah tidak akan lepas dengan yang namanya manajemen pendidikan. Bagaimana tidak, semua kegiatan yang ada tidak mungkin tidak dikelola sedemikian rupa demi kelancaran penyelenggaraan program tersebut. Pengelolaan dan pengaturan inilah yang sering disebut sebagai manajemen. Berikut ini terdapat beberapa definisi manajemen menurut para ahli :

  1. Menurut Sondang Palan Siagian, manajemen adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya.
  2. Menurut The Liang Gie, manajemen adalah segenap proses penyelenggaraan dalam setiap usaha kerjasama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu.

Dari definisi-definisi yang ada dapat dilihat bahwa sebuah manajemen tidak lepas dari tiga aspek yang selalu ditekankan, yaitu : (a) usaha kerjasama, (b) oleh dua orang atau lebih, dan (c) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jika pengertian ini dikaitkan dengan pendidikan, maka sudah termuat hal-hal yang menjadi objek pengelolaan dan pengaturan. Maka definisi manajemen pendidikan dapat dibunyikan seperti ini :

Manajemen Pendidikan adalah rangkaian segala kegiatan yang menunjuk pada usaha kerjasama dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.”

Di dalam manajemen pendidikan terdapat banyak hal yang harus diatur dan dikelola agar tidak terjadi penyimpangan dalam suatu lembaga pendidikan. Pengaturan dan pengelolan tentunya dimulai sejak sebuah lembaga tersebut didirikan sampai pada proses bahkan sampai lembaga tersebut tidak difungsikan kembali atau dengan kata lain ditutup.

 

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Fasilitas Sekolah itu?
    2. Apa saja yang menjadi cakupan pokok dalam Manajemen Fasilitas?
    3. Apa saja manfaat yang dapat diperoleh dengan diadakannya Manajemen Fasilitas?

 

  1. TUJUAN
    1. Dapat mengetahui pengertian manajemen fasilitas secara komprehensif.
    2. Dapat mengetahui apa saja yang menjadi cakupan pokok dalam suatu manajemen fasilitas.
    3. Dapat mengetahui manfaat apa saja yang didapat dengan diadakannya manajemen fasilitas.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Manajemen Fasilitas Pendidikan

Manajemen merupakan proses pendayagunaan semua sumber daya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendayagunaan melalui tahapan proses meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pengarahan, dan pengawasan disebut dengan manajemen (sergiovani, 1987). Berdasarkan uraian di atas manajemen fasilitas sekolah merupakan salah satu bagian kajian dalam administrasi sekolah (school administration), atau administrasi pendidikan (educational administration) dan sekaligus menjadi bidang garapan kepala sekolah sebagai administrator sekolah. Manajemen fasilitas sekolah mengkaji tentang administrasi pendidikan ditinjau dari sisi bagaiman memberikan layanan secara  profesional dalam bidang perlengkapan atau fasilitas kerja bagi personel sekolah. Dengan manajemen yang efektif dan efisien diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi kerja personel sekolah.

Jadi manajemen fasilitas sekolah dapat didefinisikan sebagi proses kerjasama pendayagunaan semua perlengkapan pendidikan secara efektif dan efisien. Fasilitas sekolah dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu sarana pendidikan dan prasarana pendidikan. Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Misalnya kertas, atlas, globe, dll. Sedangkan prasarana pendidikan adalah seamua perangkat kelengkapan dasar yang secra tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Misalnya ruang kantor, ruang kelas, kantin sekolah, dll.

Secara umum manajemen fasilitas ini bertujuan untuk memberikan layanan secara profesional di bidang sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidkan yang efektif dan efisien. Sedangakn secara rinci tujuannya adalah : 1. Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan melalui sistem perencanaan dan pengadaan berssama. 2. Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekoalh dengan tepat dan efesian. 3. Untuk mnegupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana sekoalah, sehingga keberadaanya selalu dalam kondisi siap pakai dan siap diperlukan oleh para personel sekolah.

 

  1. Ruang Lingkup Manajemen Fasilitas

Dalam ruang lingkup manajemen fasilitas keberadaan manajer sangat  berperan penting sebagai pengendali dalam proses mengatur mulai dari pengadaan fasilitas sampai inventarisasi fasilitas. Pengadaan fasilitas sampai inventarisasi fasilitas tersebut mencangkup proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.

  1. Perencanaan Fasilitas sekolah

Perencanaan fasilitas pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu proses memikirkan dan menetapkan program pengadaan fasilitas sekolah, baik yang berbentuk sarana maupun prasarana pendidikan dimasa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya perencanaan ialah untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan. Oleh karena itu, keefektifan suatu perencanaan pengadaan fasilitas sekolah dapat dinilai atau dilihat dari seberapa jauh pengadaannya itu dapat memenuhi kebutuhan perlengkapan di sekolah dalam beberapa periode tertentu.

Menurut Boeni Soekarno (1987) langkah – langkah perencanaan pengadaan fasilitas pendidikan sekolah yaitu:

  1. Menampung semua usulan pengadaan perlengkapan sekolah yang diajukan setiap unit kerja sekolah dan atau menginventarisasi kekurangan perlengkapan sekolah.
  2. Menyusun rencana kebutuhan perlengkapan sekolah untuk periode tertentu. Misalnya untuk satu tahun ajaran.
  3. Memadukan rencana kebutuhan yang telah disusun dengan perlengkapan yang telah tersedia sebelumnya. Dalam rangka itu, perencana atau panitia pengadaan mencari informasi tentang perlengkapan yang telah dimiliki oleh sekolah. Salah satu cara adalah dengan jalan membaca buku inventaris atau buku induk barang. Berdasarkan pemaduan tersebut lalu disusun rencana kebutuhan perlengkapan, yaitu mendaftar semua perlengkapan yang dibutuhkan yang belum tersedia di sekolah.
  4. Memadukan rencana kebutuhan dengan dana atau anggaran sekolah yang telah tersedia. Apabila dana yang tersedia tidak mencukupi untuk pengadaan semua kebutuhan itu, maka perlu dilakukan seleksi terhadap semua kebutuhan perlengkapan yang telah direncanakan, dengan melihat urgensi setiap perlengkapan tersebut. Semua perlengkapan yang urgen segera didaftar.
  5. Memadukan rencana (daftar) kebutuhan perlengkapan dengan dana atauanggaran yang ada. Apabila ternyata masih melebihi dari anggaran yang tersedia, perlu dilakukan seleksi lagi dengan m,embuat skala prioritas.
  6. Penetapan rencana pengadaan akhir.

Berdasarkan uraian di atas,perencanaan pengadaan fasilitas pendidikan bukanlah sekedar sebagai upaya pencarian ilham, melainkan upaya memikirkan perlengkapan yang diperlukan di masa yang akan datang dan bagaimana pengadaannya secara sistematis, rinci, dan teliti berdasarkan informasi yang realistis tentang kondisi sekolah. Agar semua prinsip ini terpenuhi maka semua pihak yang dilibatkan atau ditunjuk sebagai panitia perencanaan pengadaan fasilitas di sekolah perlu mengetahui dan mempertimbangkan program pendidikan, perlengkapan yang sudah dimiliki, dana yang tersedia, dan harga pasar. Dalam hubungannya dengan program pendidikan yang perlu diperhatikan adalah organisasi kurikulum sekolah, metode pembelajaran dan media pembelajaran yang diperlukan.

 

  1. Pengadaan perlengkapan sekolah

Pengadaan fasilitas pendidikan pada dasarnya merupakan upaya merealisasikan rencana pengadaan fasilitas yang telah disusun sebelumnya. Cara pengadaan fasilitas pendidikan dapat lewat dropping dari atas dan mengadakan sendiri.

Langkah – langkah pengadaan fasilitas sekolah adalah :

  1. Dinas Pendidikan Nasional Kota atau Kabupaten menyusun daftar perlengkapan sekolah yang memenuhi standar mutu, apabila dipandang perlu perlengkapan yang dari segi efektifitas dan efisiensinya telah mendapat pengesahan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah atau pejabat yang berwenang.
  2. Dinas Pendidikan Nasional Kota atau Kabupaten memberitahukan kepada sekolah bahwa sekolah yang bersangkutan akan mendapatkan bantuan dana untuk pengadaan fasilitas sekolah. Pemberitahuan tersebut harus dilengkap dengan jumlah bantuan dana, daftar perlengkapan yang dapat dibeli, petunjuk pengadaan, serta formulir yang harus ditandatangani oleh kepala sekolah sebagai lampiran dalam pengajuan untuk mendapatkan dana bantuan.
  3. Kepala sekolah bersama guru dan juga pengurus komite sekolah memilih daftar perlengkapan yang akan dibeli sesuai dengan kebutuhan sekolahnya masing – masing.
  4. Kepala sekolah mengajukan permohonan kepada Dinas Pendidikan Nasional Kota atau Kabupaten untuk mendapatkan dana bantuan pembelian perlengkapan sekolah dilampiri Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB), kwitansi dengan mencantumkan nomor rekening sekolah, daftar alat penunjang KBM yang akan dibeli, Berita Acara Rapat Pemilihan Perlengkapan Sekolah yang sudah dibubuhi tandatangan dan stempel sekolah.
  5. Dinas Pendidikan Nasional Kota atau Kabupaten memberikan persetujuan dan mencairkan dana yang diminta sekolah ke sekolah yang bersangkutan melalui prosedur pencairan dana sebagaimana berlaku (misalnya melalui KPKN).
  6. Berdasarkan uang yang duterima kepala sekolah membeli prlengkapan sekolah sesuai dengan pilihannya ke toko atau langsung ke produsen dengan prosedur yang telah diatur oleh pemerintah.
  7. Kepala sekolah membuat laporan pelaksanaan pengadaan perlengkapan sekolah dan membuat pertanggungjawaban terhadap sejumlah dana yang telah diterima, disampaikan segera kepada Dinas Pendidikan Nasional Kota atau Kabupaten.

 

  1. Pendistribusian fasilitas sekolah

Pendistribusian atau penyaluran perlengkapan merupakan kegiatan pemindahan barang dan tanggung jawab dari seorang penanggungjawab penyimpanan kepada unit-unit atau orang-orang yang membutuhkan barang itu. Dalam prosesnya, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu ketepatan barang yang disampaikan baik jumlah maupun jenisnya, ketepatan sasaran penyampaiannya, dan ketepatan kondisi barang yang disalurkan. Dalam rangka itu, paling tidak ada tiga langkah yang sebaiknya ditempuh oleh bagian penanggungjawab penyimpanan atau penyaluran, yaitu (1) penyusunan alokasi barang; (2) pengiriman barang; dan (3) penyerahan barang.

Barang yang telah diterima diinventarisasi oleh panitia pengadaan, setelah kebenarannya diperiksa berdasarkan barang yang ada pada surat pengantar, tidak berarti semua personel sekolah dapat menggunakan secara bebas. Dalam kaitannya dengan perihal di atas, perlu adanya penyusunan alokasi pendistribusian. dalam penyusunan alokasi ini ada empat hal yang harus diperhatikan dan ditetapkan.

  1. Penerima barang, yaitu orang yang menerima barang dan sekaligus mempertanggungjawabkannya sesuai dengan daftar barang yang diterima. Identitas orang yang menerima barang harus jelas.
  2. Waktu penyaluran barang. Waktu penyaluran harus disesuaikan dengan kebutuhan barang tersebut, terutama yang berhubungan dengan proses KBM.  Selain itu p[enyaluran perlengkapan tergantung pada jenisnya. Untuk barang yang habis, seperti kapur tulis, harus dapat dengan mudah disalurlkan ke kelas-kelas agar tidak menghambat aktivitas pendidikan. Sementara untuk barang yang tidak habis dipakai dapat dsalurkan berdasarkan pertimbangan-pertimbanagn terhadap keberadaan barang yang tersedia.
  3. Jenis barang yang akan disalurka kepada pemakai. Untuk mempermudah pengelolaan perlengkapan sekolah ada beberapa cara dalam membedakan jenis perlengkapan yang ada di sekolah, misalnya, dengan melihat penggunaan barang tersebut.
  4. Jumlah barang yang akan didistribusikan. Dalam pendistribusian, agar keadaan barang yang sudah disalurkan dapat diketahui secara pasti dan dapat dikontrol, perlu ada ketegasan jumlah barang yang disalurkan.
  5. Pendayagunaan fasilitas sekolah

Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan maka setiap alat perlengkapan perlu diatur penggunaannya seoptimal mungkin. Khususnya buku-buku, alat peraga dan atau alat pelajaran lain, guru mata pelajaran agar menyusun program penggunaan alat berkaitan dengan program pengajaran. Dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar guru dan atau pengguna sekolah yang lainnya, perlu membuat program penggunaan alat pelajaran secara efisien dan efektif disamping juga ikut aktif dalam perencanaan pengadaannya.

  1. Pemeliharaan fasilitas sekolah

Barang-barang yang ada di sekolah merupakan miliki negara. Oleh karena itu, harus dijaga benar-benar agar tidak cepat rusak. Walaupun demikian, apabila barang-barang tersebut sudah dimanfaatkan terlalu lama, akan berkurang pula nilai daya gunanya. Hal ini menuntut adanya kegiatan pemeliharaan yang baik. Ditinjau dari kurun waktunya ada pemeliharaan sehari-hari, dan ada pemeliharaan berkala atau menurut jangka waktu tertentu sesuai dengan jenis barang atau sarana (Ary H. Gunawan, 1983:31).

  1. Inventarisasi dan penghapusan fasilitas sekolah

Salah satu aktivitas dalam pengelolaan perlengkapan pendidikan di sekolah adalah mencatat semua perlengkapan yang dimiliki sekolah. Kegiatan tersebut dinamakan inventarisasi perlengkapan pendidikan. Inventarisasi dapat didefinisikan sebagai pencatatan dan penyusunan daftar milik negara secara sistematis, tertib, dan teratur berdasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman yang berlaku. Melalui inventarisasi perlengkapan pendidikan diharapkan dapat tercipta administrasi barang, penghematan keuangan, dan mempermudah pemeliharaan dan pengawasan. Lebih dari itu, inventarisasi mampu menyediakan data dan informasi bagi kegiatan perencanaan pengadaan perlengkapan pendidikan.

Selama inventaris kadang-kadang ditemukan barang-barang atau perlengkapan yang rusak berat, yang tidak dapat digunakan atau diperbaiki lagi. Semua barang yang telah rusak berat perlu dihapus. Penghapusan perlengkapan sekolah adalah kegiatan meniadakan barang milik sekolah (bisa juga sebagai milik negara) dari daftar inventaris dengan cara berdasarkan peraturan undang-undang yang berlaku. Kepala sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan penghapusan terhadap perlengkapan pendidikan di sekolah. Namun, perlengkapan yang akan dihapus harus memenuhi syarat-syarat penghapusan. Demikian pula prosedurnya harus mengikuti peraturan undang-undang yang berlaku.

1)      Prosedur Penghapusan

a)      Kepala sekolah (bisa dengan menunjuk seseorang) mengelompokkan perlengkapan yang akan dihapus dan meletakkannya di tempat yang aman, namun tetap di dalam lokasi sekolah.

b)      Menginventarisasi perlengkapan yang akan dihapus tersebut dengan cara mencatat jenis, jumlah, dan tahun pembuatan perlengkapan tersebut.

c)      Kepala sekolah mengajukan penghapusan barang dan pembentukan panitia penghapusan, yang dilampiri dengan data barang yang rusak (yang akan dihapusnya) ke Kantor Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten.

d)     Setelah SK penghapusan dari Kantor Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten terbit, selanjutnya panitia penghapusan segera bertugas, yaitu memeriksa kembali barang yang rusak berat, biasanya dengan membuat Berita Acara Pemeriksaan.

e)      Begitu selesai melaksanakan pemeriksaan, panitia mengusulkan penghapusan barang-barang yang terdaftar di dalam Berita Acara Pemeriksaan. Dalam rangka itu, biasanya perlu adanya pengantar dari Kepala Sekolahnya. Usulan itu lalu diteruskan ke kantor pusat Jakarta.

f)       Akhirnya begitu SK penghapusan dari Jakarta datang, bisa segera dilakukan terhadap barang-barang tersebut. Ada dua kemungkinan penghapusan perlengkapan sekolah, yaitu dimusnahkan dan dilelang. Apabila melalui lelang, yang berhak melelang adalah kantor lelang setempat. Sedangkan, hasil lelangnya menjadi milik negara.

 

 

 

 

  1. Manfaat Adanya Manajemen Fasilitas di Sekolah

 

Guru dituntut  untuk  dapat  memanajemen proses pembelajaranya dengan baik, seperti halnya dalam melaksanakan manajemen fasilitas  belajar. Manajemen fasilitas belajar yang dimaksud mencakup, perencanaan, pengadaan, penyimpanan, inventarisasi, pemeliharaan,  penggunaan,  dan penghapusan  fasilitas belajar yang meliputi meja,  kursi,  alat pelajaran, alat peraga, dan media  pembelajaran. Sebelum proses pembelajaran dimulai guru harus menyiapkan fasilitas belajar yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan. Penggunaan  media tidak  hanya membuat proses  pembelajaran  lebih efektif dan efisien, tetapi  dapat membantu siswa dalam  menyerap  materi pembelajaran secara lebih mendalam, sehingga siswa merasa senang mengikuti proses pembelajaran. Jika guru hanya menjelaskan materi tanpa dilengkapi  dengan media, maka siswa akan merasa jenuh dan ngantuk, dengan begitu konsentrasi siswa akan  merasa terganggu. Penjelasan  materi yang disertai dengan media, siswa dapat melihat, menyentuh, merasakan atau mengalami melalui media tersebut, sehingga pemahaman siswa terhadap suatu materi akan lebih baik lagi.

Menurut  Hujair  AH.  Sanaky (2009:4),  tujuan  dari  fasilitas  belajar yaitu sebagai berikut :

1) Mepermudah proses pembelajaran di kelas

2) Meningkatkan efisiensi proses pembelajaran

3) Menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar, dan

4) Membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran

Selain itu, Hujair AH. Sanaky (2009:5) juga mengemukakan manfaat dari  fasilitas  belajar  sebagai alat  bantu  dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut :

1)      Pengajaran lebih  menarik  perhatian  pembelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar

2)      Bahan  pengajaran  akan  lebih  jelas maknanya,  sehingga dapat lebih dipahami  pembelajar,  serta memungkinkan  pembelajar menguasai tujuan pengajaran dengan baik

3)      Metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-mata hanya komunikasi verbal  melalui  penuturan  kata-kata lisan  pengajar,  pembelajar  tidak bosan, dan pengajar tidak kehabisan tenaga

4)      Pembelajar lebih  banyak  melakukan  kegiatan  belajar, sebab  tidak hanya mendengarkan  penjelasan  dari pengajar saja,  tetapi juga aktivitas  lain  yang dilakukan  seperti  :  mengamati,  melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

Ada tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan dan hasil tersebut diperlukan fasilitas belajar karena fasilitas belajar merupakan sarana yang dapat membantu proses pembelajaran. Fasilitas belajar seperti media dapat meningkatkan keingintahuan siswa, merangsang siswa untuk merespon terhadap penjelasan guru, membantu siswa dalam mengkonkretkan sesuatu yang abstrak. Fasilitas belajar juga dapat membantu  guru  untuk  menciptakan  suasana kelas yang menyenangkan agar tidak monoton dan membosankan. Tanpa menggunakan media,  guru  akan  cenderung berbicara satu  arah kepada siswa. Sedangkan dengan  menggunakan media akan  menciptakan  komunikasi dua arah antara guru dan siswa.

Manajemen fasilitas belajar dapat mempengaruhi mutu pembelajaran, karena memiliki  peran  yang sangat  penting dalam  kegiatan  pembelajaran, Dimana fasilitas belajar dapat  memperlancar kegiatan  pembelajaran. Untuk itu,  manajemen  fasilitas belajar yang dilakukan  oleh  guru harus dapat dilakukan dengan efektif atau dengan baik.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Manajemen fasilitas sekolah merupakan salah satu bagian kajian dalam administrasi sekolah (school administration), atau administrasi pendidikan (educational administration) dan sekaligus menjadi bidang garapan kepala sekolah sebagai administrator sekolah. Dalam ruang lingkup manajemen fasilitas keberadaan manajer sangat  berperan penting sebagai pengendali dalam proses mengatur mulai dari pengadaan fasilitas sampai inventarisasi fasilitas. Pengadaan fasilitas sampai inventarisasi fasilitas tersebut mencangkup proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan. Manajemen fasilitas belajar dapat mempengaruhi mutu pembelajaran, karena memiliki  peran  yang sangat  penting dalam  kegiatan  pembelajaran, Dimana fasilitas belajar dapat  memperlancar kegiatan  pembelajaran. Untuk itu,  manajemen  fasilitas belajar yang dilakukan  oleh  guru harus dapat dilakukan dengan efektif atau dengan baik.

 

 

 

 

 

About awanadec99

reserved

Posted on 16 Desember 2012, in Pendidikan, Pengetahuan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s