Rangkuman Makul Kurikulum Pendidikan

Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan. Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum yakni landasan filosofis, landasan psikologis, landasan  Sosiologis-Teknologis. Sebagai suatu landasan fundamental, filsafat memegang peranan penting dalam proses pengembangan kurikulum. Ada empat fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum. Pertama, filsafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan. Dengan filsafat sebagai pandangan hidup atau value system, maka dapat ditentukan mau dibawa ke mana siswa yang kita didik itu. Kedua, filsafat dapat menentukan isi atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan. Filsafat sebagai system nilai dapat dijadikan pedoman dalam merancang kegiatan pembelajaran. Keempat, melalui filsafat dapat ditentukan bagaimana menentukan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan.

Hummel (1977), mengemukakan ada tiga hal yang harus yang harus diperhatikan dalam mengembangkan tujuan pendidikan: autonomy, equite, dan survival. Menurut Nasution ada empat aliran utama dalam filsafat, yaitu idealisme, realisme, pragmatisme, eksistensialisme. Tahap-tahap perkembangan kognitif menurut piaget, a. Sensorimotor (0-2 tahun), b. Praoperasional (2-7 tahun), dan c. Operasional Konkret (7-11 tahun).

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam proses menyusun dan mengembangkan suatu kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Hal-hal tsb berupa: Kekuatan Sosial yang Dapat Mempengaruhi Kurikulum, dan Kemajuan IPTEK sebagai Bahan Pertimbangan Penyusunan Kurikulum.

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum, yaitu : 1. Prinsip-prinsip umum antara lain, a. prinsip relevansi, b. prinsip fleksibilitas, c. prinsip kontinuitas, d. efektifitas, e. efisiensi. 2. Prinsip-prinsip khusus antara lain, a. Prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan, b. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, c. Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, d. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran, e. Prinsip yang berkenaan dengan penilaian.

Tipe-tipe prinsip pengembangan kurikulum yaitu tingkat validitas dan reliabilitas prinsip yang digunakan. Ada berbagai macam bentuk pengembangan kurikulum, namun semuanya dapat digolongkan dalam dua bentuk yaitu pengembangan atas dasar sistem dan pengembangan atas dasar mata pelajaran.

Ada empat teori pendidikan yang banyak dibicarakan oleh para ahli pendidikan  dan dipandang mendasari pelaksanaan pendidikan, yaitu sebagai berikut : pendidikan klasik, pendidikan pribadi, teknologi pendidikan, dan pendidikan interaksional. Pendidikan Klasik atau classical education dapat dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Konsep ini bertolak dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya yaitu pengetahuan, ide-ide, atau nilai-nilai yang telah ditemukan oleh para pemikir terdahulu. Pendidikan berfungsi memelihara mengawetkan dan meneruskan semua warisan budaya tersebut kepada generasi berikutnya. Ada dua model konsep pendidikan klasik yaitu perenialisme dan esensialisme, Perenialisme berkembang di Eropa dalam masyarakat aristokratis agraris, dan Esensialisme berkembang di Amerika Serikat dalam mayarakat industri.

            Pendidikan berdasar dari kebutuhan dan minat siswa. Siswa menjadi subyek pendidikan. Seorang pendidik berperan untuk menyampaikan informasi dan ahli dalam disiplin ilmu, juga sebagai psikolog yang mengerti kebutuhan dan masalah siswa.

Teori ini memiliki dua aliran, yaitu :

a)      Pendidikan progresif.

b)      Pendidikan romantik.

Teknologi pendidikan lebih berorientasi ke masa sekarang dan yang akan datang, tidak seperti pendidikan klasik yang lebih melihat ke masa lalu. Perkembangan teknologi pendidikan dipengaruhi dan sangat diwarnai oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Hal itu memang sangat masuk akal, karena teknologi pendidikan bertolak dari dan merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmu dan teknologi dalam pendidikan. Menurut pandangan klasik, pengalaman manusia itu bersifat menetap, sama dari tahun ke tahun. Berbeda dengan pandangan teknologi pendidikan, pengalaman manusia itu selalu berubah, hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Kehidupan dan perkembangan itu selalu baru. Menurut teori ini, pendidikan adalah ilmu dan bukan seni, pendidikan adalah cabang dari teknologi ilmiah. Dengan pengembangan desain program, pendidikan menjadi sangat efisien. Efisiensi merupakan salah satu cirri utama teknologi pendidikan. Dalam pengembangan desain program, teknologi pendidikan juga melibatkan penggunaan perangkat keras, alat-alat audiovisual dan media elektronika. Dalam konsep teknologi pendidikan, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus. Isi pendidikan berupa data-data objektif dan keterampilan-keterampilan yang mengarah kepada kemampuan vocational. Isi disusun dalam bentuk desain program dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para siswa belajar secara individual.

Yang di maksud desain disini adalah rancangan, pola, dan model. Menurut Longstreet (1993): Desain kurikulum ini merupakan desain kurikulum yang berpusat pada pengetahuan (the knowledge centered design) yang dirancang berdasarkan struktur disiplin ilmu, Berdasarkan pada apa yang menjadi focus pengajaran, sekurang-kurangnya dikenal tiga pola desain kurikulum, yaitu :

1.   Subject centered design, suatu desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar.

2.   Learner centered design, suatu desain yang mengutamakan peranan siswa.

3.   Problems centered design, desain kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang dihadapi dala masyarakat.

Dalam desain kurikulum sendiri mempunyai beberapa model desain, yaitu: Desain kurikulum sebagai disiplin ilmu, desain kurikulum disini berpusat pada pengetahuan tersebut, Desain kurikulum Berorientasi pada Masyarakat, dalam desain ini tujuan utamanya adalah diamana kebutuhan masyarakat menjadi dasar dalam membentuk suatu kurikulum, Desain kurikulum berorientasi pada siswa, dalam desain ini asumsi yang harus dilekatkan adalah bahwa pendidikan ditujukan unuk siswa, dan yang terakhir Desain kurikulum teknologis dalam desain ini di fokusakan dalam efektifitas program, metode, dan bahan yang dianggap dapat mencapai tujuan.

Model desain kurikulum teknologis difokuskan pada efektifitas program, metode, dan bahan-bahan yang dianggap dapat mencapai tujuan. Teknologi memengaruhi kurikulum dalam dua sisi, yaitu :

a)      Sisi penerapan hasil-hasil teknologi yaitu perencanaan yang sistematis dengan menggunakan media atau alat dalam kegiatan pembelajaran.

b)      Penerapan teknologi sebagai suatu sistem, yaitu menekankan pada penyusunan program pembelajaran dengan menggunakan pendekatan system yang ditandai dengan perumusan tujuan khusus sebagai tujuan tingkah laku yang harus dicapai.

Kurikulum teknologis memiliki ciri-ciri :

a)      Pergorganisasian materi kurikulum berpatokan pada rumusan tujuan.

b)      Materi kurikulum disusun secara berjenjang.

c)      Materi kurikulum disusun dari mulai yang sederhana menuju yang kompleks.

Keberhasilan kurikulum teknologi memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

a)      Kesadaran akan tujuan yaitu anak didik perlu memahami bahwa pembelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan.

b)      Dalam pembelajaran anak didik diberi kesempatan memraktekkan kecakapan sesuai dengan tujuan.

c)      Siswa perlu diberi tahu hasil yang telah dicapai, karena itu siswa perlu menyadari apakah pembelajaran sudah dianggap cukup atau masih perlu bantuan.

pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (Curriculum Construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Pada sisi lainya berkenaan dengan penjabaran  kurikulum (GBPP) yang telah disusun oleh tim pusat menjadi rencana dan persiapan-persiapan mengajar yang lebih khusus, yang dikerjakan oleh guru-guru disekolah, seperti penyusunan rencana tahunan, caturwulan, satuan pelajaran, dan lain-lain. Dilihat dari cakupan pengembangannya apakah curriculum construction atau curriculum improvement, ada dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum. Pertama, Pendekatan Top Down atau pendekatan administratif sebagai pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah, dan Pendekatan Grass-Root, atau pengembanagn kurikulum sebagai yang dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator, kemudian menyebar pada lingkungan yang lebih luas, atau disebut juga pengembangan kurikulum dari bawah ke atas.

Model berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah komunikasi, atau sebagai petunjuk yang bersifat prespektif untuk mengambil keputusan, atau sebagai petunjuk perencanaan kegiatan pengelolaan. Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat  menolong si pengguna untuk memahami  suatu proses secara mendasar dan menyeluruh. Selanjutnya ia menjelaskan model sebagai berikut:

  1. Model dapat menjelaskan beberapa perilaku dan interaksi manusia.
  2. Model dapat mengintegrasikan seluruh hasil observasi dan penelitian.
  3. Model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks.
  4. Model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.

Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa model yang dapat digunakan. Tiap model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya itu sendiri maupun dilihat dari tahapan pendekatannya maupun pengembangannya;

  1. Model Tyler

            Model pengembangan kurikulum  Tyler  mengacu  pada  empat  pertanyaan dasar yang harus dijawab, dimana pertanyaan tersebut merupakan pilar-pilar bangunan  kurikulum.

model pengembangan kurikulum Tyler itu ada 4 tahap yang harus dilakukan yaitu meliputi :

a)      Menentukan tujuan pendidikan.

b)      Menentukan       pengalaman   belajar   yang   harus   dilakukan   untuk   mencapai tujuan yang telah ditentukan.

c)      Menentukan organisasi pengalaman belajar.

d)      Menentukan evaluasi pembelajaran untuk mengetahui apakah tujuan telah dicapai.

  1. Model Taba

Model pengembangan ini lebih rinci dan lebih sempurna jika dibandingkan dengan model Tyler.Model Taba merupakan modifikasi dari model Tyler, modifikasi tersebut terutama penekanannya pada pemusatan perhatian guru. Teori Taba mempercayai bahwa guru merupakan faktor utama dalam usaha pengembangan  kurikulum. Menurut Taba bahwa guru harus aktif penuh dalam pengembangan  kurikulum. Dalam pengembangannya lebih bersifat induktif dan berbeda dengan model tradisional. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. membuat unit-unit eksperimen bersamadengan guru-guru.
  2. Menguji unit eksperimen.
  3. Mengadakan revisi dan konsolidasi.
  4. Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum (Developing   a Framework).
  5. Implementasi dan Desiminasi.

  1. Model Oliva

Model Oliva adalah model kurikulum harus bersifat simpel, komphrehensif dan sistematik. Menurut model oliva, ada 12 komponen yang harus dikembangkan. Komponen pertama adalah perumusan filosofis, sasaran, misi serta vis lembaga pendidikan, yang kesemuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa, dan analisis kebutuhan masyarakat. Komponen kedua adalah analisis kebutuhan masyarakat dimana sekolah itu berada, kebutuhan siswa dan urgensi dari disiplin lmu yang harus diberikan oleh sekolah. Sumber kurikulum dapat dilihat dari komponen 1 dan 2 ini. Komponen 1 berisi pernyataan-pernyataan yang bersifat umum dan sangat ideal : sedangkan komponen 2 sudah mengarah kepada tujuan yang lebih khusus.

  1. Model Bauchamp

Model ini dinamakan system Beauchamp, karena memang diciptakan dan dikembangkan oleh Bauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan ada lima langkah dalam proses pengembangan kurikulum.

a.Menetapkan wilayah atau arena yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum. Wilayah itu bias terjadi pada hanya satu sekolah, satu kecamatan, kabupaten, atau mungkin tingkat provinsi dan tingkat nasional.

b.Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pngembangan kurikulum. Ia menyarankan untuk melibatkan seluas-luasnya para tokoh di masyarakat. Baik itu para ahli/ spesialis kurikulum, para ahli pendidikan serta para professional dalam bidang lain.

c. Menetapkan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar serta menetapkan evaluasi.

d.Implementasi kurikulum. Pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum.

e.Melaksanakan evaluasi kurikulum.

  1. Model Wheeler

Menurut Wheller, pengembangan kurikulum merupakan suatu proses ynag membentuk lingkaran yang terjadi secara terus menerus. Dimana ada lima fase (tahap). Setiap tahap merupakan pekerjaan yang berlangsung secara sistematis atau berturut. Artinya, kita tidak mungkin dapat menyelesaikan tahapan kedua manakala tahapan pertama belum terselesaikan. Namun demikian, manakala setiap tahap sudah selesai dikerjakan, kita akan kembali pada tahap awal.

  1. Model Nicholls

Model pengembangan kurikulum Nicholls menggunakan pendekatan siklus seperti model Wheeler. Model Nicholls digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi.Ada lima langkah pengembangan kurikulum menurut Nicholls, yaitu:

a. Analisis sesuatu.

b. Menentukan tujuan khusus.

c. Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran.

d. Menentukan dan mengorganisasi metode.

e. Evaluasi.

  1. Model Dynamic Skilbeck

Skilbeck menjelaskan model ini diperuntukkan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Agar proses pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembang termasuk guru perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari mennganalisis situasi sampai pada melakukan penilaian. Skilbeck menganjurkan model pengembangan kurikulum yang ia susun dapat dijadikan alternative dalam pengembangan kurikulum tingkat sekolah. Menurut Skilbeck langkah-langakah pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut:

a. Menganalisis sesuatu.

b. Memformulasikan tujuan.

c. Menyususn program.

d. Interpretasi dan implementasi.

e. Monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi.

Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran (Subject Cirriculum) secara garis besar, ada tiga pengorganisasian pokok, yaitu :

  1. Separated subject curriculum.
  2. Correlated curriculum.
  3. Integrated curriculum.

Kurikulum Inti (Core curriculum)

Kurikulum ini merupakan bagian dari kurikulum terpadu (integrated curriculum).  Beberapa karakteristik yang dapat dikaji dalam kurikulum ini (Rudi S., 73:2006) : 1) kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan (continue) selalu berkaitan dan direncanakan secara terus menerus; 2) isi kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan; 3) isi kurikulum selalu mengambil atas dasar masalah maupun problema yang dihadapi secara actual; 4) isi kurikulum cenderung mengambil atau mengangkat subtansi yang bersifat pribadi maupun social; 5) isi kurikulum ini lebih difokuskan berlaku untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini sebgai kurikulum umum tetapi substansinya bersifat problema, pribadi, social, dan pengalaman yang terpadu.

Core curriculum selalu menggunakan bahan-bahan dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu guna menjawab permasalahan yang dihadapi.

Social Functions merupakan bagian dari kurikulum terpadu, ini didasarkan atas analisi kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia sebagai individu dari sebagai anggota masyarakat diantaranya: 1) memelihara dan menjaga keamanan masyarakat; 2) perlindungan dan pelestarian hidup, kekayaan, dan sumber alam; 3)komunikasi dan transportasi; 4) kegiatan rekreasi; 5) produksi dan lain-lain. Dalam social functions ini dapat diangkat berbagai kegiatan-kegiatan manusia yang dapat dijadikan sebagai topik pembelajaran. Kegiatan-kegiatan manusia di masyarakat setiap saat akan berubah sesuai dengan perkembangan maupun era globalisasi, sehingga substansi social functions pun harus bersifat dinamis. Ada 4 tipe pembelajaran proyek yang dapat dikembangkan dalam activity curriculum diantaranya:

  1. Construction on creative project. Pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangkan idea-idea atau merealisasikan suatu idea dalam suatu bentuk tertentu.
  2. Appreciation on enjoyment project. Pembelajaran ini bertujuan untuk menikmati pengalaman-pengalaman dalam bentuk apresiasi atau estetis (estetika).
  3. The problem project. Pembelajaran ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang bersifat intelektual tetapi ada substansi terdapat ketrampilannya (vokasional).
  4. The drill or specific project. Pembelajaran ini bertujuan untuk memperoleh beberapa item atau tingkat ketrampilan.

Tujuan pendidikan antara lain:

  1. Tujuan Institusional (Kompetensi Lulusan)

Adalah tujuan yang yang harus dicapai oleh suatu lembaga pendidikan, contoh : SD, SMP, SMA.

  1. Tujuan kurikuler (Standart Kompetensi)

Adalah tujuan bidang studi atau mata pelajaran sehingga mencapai hakikat keilmuan yang ada didalamnya.

Terdapat tiga bentuk perilaku yang harus dirumuskan yaitu : domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotor. Tujuan instruksional (Kompetensi Dasar) dirumuskan sebagai kemampuan-kemampuan yang diharapkan dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan prosesbelajar mengajar.

  1. Tujuan instruksional Umum (Indikator Umum).

Kemampuan tersebut sifatnya lebih luas dan mendalam.

  1. Tujuan instruksional khusus (Indikator khusus).

Kemampuan lebih terbatas dan harus dapat diukur pada saat berlangsunganya prose belajar mengajar

Komponen-komponen pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan, suatu asumsi, atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Komponen-komponen pokok dalam pengembangan kurikulum adalah komponen tujuan, komponen isi/materi pelajaran, komponen metode/strategi, dan komponen evaluasi. Komponen tujuan, yaitu asumsi-asumsi tentang tujuan pendidikan, tujuan pendidikan nasional, tujuan isntitusional, tujuan kurikuler, tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran yang menjadi komponen utama dalam mengembangkan kurikulum. Asumsi-asumsi komponen tujuan tersebut berimplikasi pada perumusan arahan atau hasil yang diharapkan Komponen isi/materi pelajaran, yaitu asumsi-asumsi yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Komponen metode/strategi, yaitu asumsi-asumsi yang berhubungan dengan implementasi kurikulum. Komponen evaluasi, yaitu asumsi-asumsi untuk melihat efektifitas pencapaian tujuan.

Diadakannya evaluasi di dalam proses pengembangan kurikulum dimaksudkan untuk keperluan :

  1. Perbaikan program.
  2. Pertanggungjawaban kepada berbagai pihak.
  3. Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan.

Model-model dalam evaluasi kurikulum adalah :

  1. Evaluasi Model Penelitian.
  2. Evaluasi Model Objektif.
  3. Evaluasi Model Campuran Multivariasi.
  4. Model EPIC ( Evaluation Program for Innovative Curriculums).
  5. Model CIPP (Context, Input, Process dan Product).
  6. Model C – I – P – O – I.
  7. Model I – P – O.
  8. Model I – P – O – I.
  9. Model 3 P (Program – Proses – Produk).

Dari pengertian KBK di atas menurut Wina Sanjaya terdapat 2 makna yang tersirat. Pertama  KBK mengharapkan adanya hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna dan Kedua, KBK memberikan peluang pada siswa sesuai dengan keberagaman yang dimiliki masing-masing. Kurikulum berfungsi sebagai alat dalam proses pendidikan di sekolah. Di dalamnya bukan hanya berisi tentang arah dan tujuan yang ingin dicapai, akan tetapi juga menyangkut isi, pedoman dalam menyusun prosedur atau strategi mencapai tujuan serta, cara mengevaluasi keberhasilan pencapaian tujuan itu. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) didasarkan pada tiga asas pokok, yaitu asas filosofis, asas psikologis, dan asas sosiologis teknologis.

Prinsip – Prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan KBK yaitu :

  1. Prinsip-prinsip pengembangan
  • Peningkatan Keimanan, Budi Pekerti Luhur, dan Penghayatan Nilai – Nilai Budaya Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk manusia yang beriman dan bertakwa sejalan dengan filsafat bangsa.
  • Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan Kinestetika. Pembentukan manusia yang utuh merupakan tujuan utama pendidikan. Manusia utuh adalah manusia yang seimbang antara kemampuan intelektual dan sikap dan moral serta keterampilan.
  1. Prinsip-prinsip pelaksanaan.
  • Kesamaan Memperoleh Kesempatan. Bahwa melalui KBK penyediaan tempat yang memberdayakan semua peserta didik secara demokratis dan berkeadilan untuk memperoleh pengetahuan.
  • Berpusat Pada Anak. Upaya memandirikan peserta didik untuk belajar, bekerjasama, dan menilai diri sendiri diutamakan agar peserta didik mampu membangun kemauan, pemahaman, dan pengetahuannya. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik terus-menerus diupayakan. Penyajiannya disesuaikan dengan tahap – tahap perkembangan peserta didik melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Terdapat tujuh cara mengimplementasi KBK menurut Wina Sanjaya, antara lain : Mensosialisasikan Perubahan Kurikulum, Menciptakan Lingkungan yang Kondusif, Mengembangkan Fasilitas dan Sumber Belajar, Mendisiplinkan Peserta Didik, Mengembangkan Kemandirian Kepala Sekolah, Mengubah Paradigma (Pola Pikir) Guru, Memberdayakan Tenaga Kependidikan.

About awanadec99

reserved

Posted on 3 Januari 2013, in Pendidikan, Pengetahuan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s